Jumat, 22 Desember 2017

MBAIT ; "Tradisi Sakral Merariq Adat Sasak

            Dalam menikah atau dalam bahasa Sasak disebut "merariq", segala proses yang terjadi dilakukan dengan tata cara adat. Setelah kedua belah pihak yang saling mengenal itu sepakat untuk menikah, maka prosesi merariq akan dilakukan. Kesepakatan merariq itu diwujudkan dengan membawa si calon pengantin perempuan dengan cara "mbait" diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Perempuan harus diambil dari rumahnya atau rumah walinya, tidak boleh diambil dari tempat kerja, di pasar atau di tempat lain. Perempuan yang diambil itu haruslah di dampingi oleh perempuan lainnya dan harus ditempatkan di rumah orang lain atau sanak keluarga laki-laki. Konsep merariq sesungguhnya merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan bagi hak asasi perempuan Sasak dalam memilih pendamping hidup tanpa intervensi orang tua.
            Bagi dua orang yang sepakat menikah, bisa telah diketahui oleh orang tua perempuan sebelumnya, bisa juga tidak. Merariq/menikah terwujud dengan kesepakatan waktu mbait (mengambil perempuan dari rumah orang tuanya). Waktu mbait juga ditentukan dengan adat, yakni antara waktu Magrib dan Isya, tidak sembarang waktu. Waktu ini dinilai sebagai waktu paling baik untuk proses mbait. Bagi yang menikah tanpa persetujuan orang tua, maka waktu mbait pun menjadi tantangan tersendiri bagi calon mempelai terutama pihak laki-laki.
            Mbait juga punya tata cara dan aturan adat serta menjunjung nilai kesopanan. Saat mbait, dalam rombongan si laki-laki, ada sekelompok perempuan dewasa yang bertugas menjemput si perempuan dari dalam rumah ataupun halaman rumahnya. Yang menjemput harus dewasa dan telah menikah, tidak boleh yang belum menikah. Si laki-laki dan rombongan lainnya berjaga-jaga di luar halaman rumah. Saat Mbait, ada yang sekali langsung berhasil, ada juga yang harus berkali-kali datang dan selalu gagal. Namun, bagi rombongan pihak laki-laki, ini bukan masalah. Di sinilah letak "seninya" merariq dalam adat Sasak, bagaimana bisa membawa si pujaan hari yang melewati rintangan berat. Setelah si calon penganten perempuan berhasil di bawa, maka tidak diperbolehkan membawanya ke rumah si laki-laki calon pengantin, melainkan dibawa ke rumah keluarga atau kerabat atau kawan dari calon pengantin laki-laki. Di sanalah si perempuan ini dititipkan sambil menanti proses berikutnya yakni menanti kesepakatan antara dua keluarga, baik keluarga si perempuan maupun laki-laki.
            Semua aturan adat dalam proses berumah tangga adat Sasak, sarat dengan nilai dan norma yang menjunjung tinggi hak -hak perempuan. dewasa ini, tradisi menikah adat Sasak seperti tenggelam. Meskipun masih ada yang melakukan tradisi itu dengan benar, namun tidak bisa kita pungkiri bahwa tata cara tradisi sesungguhnya sudah hilang.

30 komentar:

  1. WOAH informasi yang menarik sungguh budaya tidak bisa terpisahkan dari diri kita layaknya kau dan dia 😂 terimakasi.

    BalasHapus
  2. Sangat menarik tradisinya,saya jadi ingin lebih mengenal budaya sasak walaupun saya bukan orang sasak, yang ingin saya tanyakan pada admin apakah mbait itu berlaku untuk semua masyarakat sasak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya berlaku, tetapi di era modern ini, Tradisi itu seperti hilang. Hanya kalangan tertentu yg masih menggunakan tradisi tersebut.

      Hapus
  3. Bermanfaat.. Tapi sayang yang nulis belum bisa move on.. Bosen beranda dikotorin status galau. Wkwk

    Link back nikijingga.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Unik dan menarik sekali kebudayaanya, semoga tetap eksis

    BalasHapus
  5. Terimakasi postingannya sangat bermanfaat. Gomawo

    BalasHapus
  6. terimakasih sangat mendambah informasi tentang budaya sasak

    BalasHapus
  7. Wah luar biasa. kwmbangakan sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  8. Terimakasih atas postingannya 😊 dan ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan saya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bermanfaat buat teman-teman dari luar lombok. terima kasih

      Hapus
  9. Trimakasih min.. semoga anda cepat melaksanakan ritual ini ya min.

    BalasHapus
  10. Sangat bermanfaat bagi generasi sekarang.

    BalasHapus
  11. Memang seiring perkembangan zaman tata cara tradisi ini 'mbait' sudah hampir hilang atau salah dilakukan, oleh karena itu kita sebagai pembelajar wajib untuk meluruskannya terutama orang sasak Lombok..

    BalasHapus
  12. Kenapa semua bahas merarik merarik..
    Wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  13. ayo... sebarkan tentang piagam gumi sasak.

    BalasHapus
  14. yang ngepost kapan nih disorong serah :D

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Pejuang harapan

Hidup membelah dirinya pada setiap yang bernyawa Mencipta pola untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya Aku belajar tentang...